Sudahkah kita menjalankan peran ?

0
1085

Ust. Akhmar Kholid, S.Pd

Pengasuh PPMTQ Daarussalaam Purbalingga Slinga

Hampir tak ada habisnya, pemberitaan mengenai dunia pendidikan yang dipublikasikan oleh media masa. Berita terbaru dan menghebohkan adalah adanya ratusan pelajar di jawa timur yang hamil. Namun yang lebih mengejutkan lagi menurut data dinsos setempat hal ini bukan yang pertama kalinya terjadi di Jawa timur. Wal’iyadzu billah.

Berkaca dari fenomena diatas bisa dipastikan bahwa kasus serupa bisa juga terjadi di daerah lain. Tentu dengan variabel yang berbeda-beda. Apapun faktor yang melatarbelakangi kasus diatas tetap tidak bisa dibenarkan dari kacamata apapun. Terlebih jika ditinjau dari aspek agama dan pendidikan.

Hilangnya sosok teladan

Kasus di atas hanyalah fenomena gunung es. Rapuhnya jiwa anak-anak mengakibatkan hidup tanpa prinsip dan patokan yang jelas. Mudahnya terpengaruh dengan keadaan tanpa mempertimbangkan efek dan akibat yang ditimbulkan. Mudah memperturutkan keinginan dan berfikir instan. Jika dibiarkan maka kenakalan dalam bentuk diatas akan terus meluas. Putus sekolah. Pendidikan rendah. Sekalipun menikah menjadi solusinya tidak akan terbentuk keluarga yang ideal dan justru sebaliknya.

Hari ini anak-anak kehilangan sosok teladan. Tentu bukan sebatas fisik namun teladan dalam peran dan fungsinya. Orang tua terkhusus ayah menjadi figuritas yang besar pengaruhnya bagi perkembangan pendidikan anak laki-laki maupun perempuan.

Ayah bagi anak laki-laki adalah seorang role model. Ia diposisikan menjadi pahlawan di keluarga, cerminan sosok lelaki yang tangguh dan kuat. Dari Ayah-lah anak laki-laki belajar untuk pertama kalinya bagaimana seharsunya seorang anak laki-laki sejati berperan di dalam kehidupan.

Sedangkan bagi anak perempuan, ayah menjadi lambang cinta pertama yang memberikan gambaran laki-laki bertanggung jawab, komitmen dengan prinsip dan problem solving saat menghadapi masalah. Sebuah penelitian mengungkapkan bahwa rata-rata perempuan mencari pasangan yang mirip dengan ayahnya. Hal tersebut karena apabila anak perempuan memiliki pengalaman positif dengan ayahnya cenderung menginginkan kejadian tersebut terulang saat ia berkeluarga.

Lantas apa yang terjadi jika seorang anak kehilangan sosok figur ayah dalam hidupnya? Kehilangan sosok ayah bisa menjadi sebab depresi berat dan awal kehancuran hidupnya. Tidak ada lagi teman diskusi, tidak ada lagi pelindung dan pembela, tidak ada lagi yang memberikan gambaran figur laki-laki ideal di keluarga, tidak ada yang bisa ditanyai “laki-laki yang baik itu seperti apa”, dan rasa kehilangan lain yang menjelma dalam kesepian.

Maka sangat wajar bila mengakibatkan hilangnya keceriaan. Pupusnya harapan masa depan. Pada akhirnya dilampiaskan dalam berbagai bentuk penyimpanan yang bertentangan dengan norma maupun agama.

Kisah pemuda berzina

Berbicara pentingnya sosok teladan yang menjadi kepercayaan seorang anak, maka kita ingat kisah seorang pemuda yang meminta izin kepada Rasulullah untuk berzina. Sebagaimana disebutkan dalam hadits riwayat Ahmad dengan terjemah sebagai berikut ini:

Pada sebuah kesempatan, saat itu Rasulullah SAW sedang duduk bersama para sahabatnya. Tetiba datanglah seorang seorang anak muda dengan sedikit tergesa-gesa menghampiri Nabi. Sebagaimana lumrahnya seorang pemuda, dengan jiwanya yang bergelora. Mudah terjerumus ke hal-hal yang negatif, termasuk perbuatan zina.

Pemuda itu mengutarakan maksudnya, ia berkata kepada baginda shalallahu ‘alaihi wasallam, “Wahai Rasulullah SAW, izinkanlah aku untuk melakukan perbuatan zina.”

Tak ayal majelis Rasulullah SAW itupun gempar. Untuk apa pemuda itu menanyakan sesuat yang sudah jelas jawabannya? Demikian ujar sebagian sahabat dalam hati. Bahkan, tidak sedikit di antara mereka yang mencibir pemuda itu.

Namun, Nabi Muhammad SAW tetap bijaksana dalam menanggapi. Beliau kemudian berkata kepada para sahabat, “Suruhlah pemuda itu mendekatiku.” Maka pemuda itu pun mendekat.

Setelah itu, beliau dengan lembut bertanya kepadanya, “Wahai anak muda, apakah engkau suka bila perzinaan itu terjadi atas diri ibumu?”

Pemuda ini menjawab, “Tidak. Demi Allah, biarlah Allah menjadikan diriku sebagai tebusanmu.”

Beliau shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Demikianlah perasaan orang lain, ia juga tidak suka bila hal itu terjadi pada diri ibunya.” Rasulullah SAW berkata, ”Wahai anak muda, apakah kamu rela bila hal itu terjadi atas diri putrimu?”

Ia menjawab, ”Tidak. Demi Allah, biarlah Allah menjadikan diriku sebagai tebusanmu.” Beliau bersabda, ”Nah! Orang lain pun demikian, ia tentu tidak rela bila hal itu terjadi pada diri putrinya.”

Rasulullah SAW mengajukan pertanyaan serupa jika hal itu menimpa bibi ataupun saudara perempuannya. Pemuda itu mengemukakan jawaban yang sama. Rasulullah SAW bersabda, ”Wahai anak muda, ketahuilah bahwa tidak seorang pun yang rela terhadap perbuatan yang menodai kehormatan keluarganya.”

Kemudian beliau meletakkan tangan beliau pada pemuda tersebut seraya berkata, “Ya Allah, ampunilah dosanya, sucikanlah hatinya, dan peliharalah kemaluannya (jauhkan dari zina).” Setelah itu anak muda itu tidak terbesit sedikitpun adalam hatinya untuk berbuat zina.

Tadabbur

Pembaca yang budiman, dari kisah diatas sesungguhnya ada banyak sekali pelajaran berharga yang bisa dipetik oleh para pendidik maupun orang tua.

Pertama, lihatlah bagaimana cara pemuda itu menghadap Rasulullah. Mengesankan dirinya begitu akrab dengan Rasulullah. Sikap itu tentu muncul bukan tanpa sebab, melainkan adanya rasa percaya yang tinggi kepada Rasulullah. Ia yakin Rasulullah menjamin keamanan dan perlindungan untuk dirinya. Ia percaya hanya Rasulullah sosok yang menjadi problem solving atas masalahnya. Mampu menjawab pertanyaan rumit dengan cepat dan tepat.

Bandingkan kondisi diatas dengan kita? Betapa kita menjadi sosok monster yang menakutkan bagi anak. Jangankan untuk menceritakan keluh kesahnya, sekedar bertanya saja rasanya takut. Anak tidak ada lagi tempat untuk curhat, mengobrol dan mencurahkan perasaannya. Alhasil bukan orang tua yang menjadi tempat berlabuh jiwanya disaat luka melainkan pacar dan teman kenalannya. Jika sudah begini kita mau bilang apa?

Kedua, dalam menghadapi persoalan anak hendaknya kedepankan dialog atau diskusi. Semua paham bahwa berzina adalah dosa besar yang sangat dibenci dalam agama. Apalagi Rasulullah, tentu lebih faham, namun coba perhatikan bagaimana beliau memperlakukan pemuda tersebut?

Sungguh diluar bayangan kita. Bukan kemarahan yang diperlihatkan. Rosulullah justru meminta pemuda itu mendekat. Diajaknya dialog dengan pendekatan ilustrasi dan analogi yang efektif. Lakukan pendekatan personal layaknya teman. Halus tutur katanya. Maka pada akhirnya pemuda itu tersadarkan tanpa penentangan. Ia tinggalkan dosa zina itu atas dasar kesadaran bukan paksaan.

Maka sangat disayangkan, hari ini budaya dialog kurang begitu diperhatikan. banyak orang tua maupun para pendidik yang mengabaikan hal ini. Marah dan meninggikan suara dianggap menjadi solusi paling ampuh untuk menghentikan “kenakalan” nya. Padahal mereka hanya butuh didengar suaranya. Itu sudah cukup untuk mengobati kegalauan dan keresahan batinnya.

Semoga Allah melindungi kita dan anak-anak kita dari berbagai keburukan. Aamiin.

Artikulli paraprakUNIMUS Siap Perkuat Implementasi Hasil Muktamar 48 Muhammadiyah di Lingkungan Kampus
Artikulli tjetërRefleksi Milad Mufourga (Dulu, sekarang dan yang akan datang)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini