Santri Pondok Membuat Bakpao

0
288

Seperti yang direncanakan, Rabu 1 Mei 2024 seluruh santri dan Guru MA Ponpes Daarussalaam berkumpul untuk mengikuti kegiatan Outing Class. “Walaupun hari itu di kalender Pondok tertulis merah, namun tidak menjadi masalah”, begitu Ustadz Budi Setiawan, S.Pd menyampaikan.

Tiga mobil (dua mobil terbuka dan satu armada inventaris pondok) keluar dari gerbang asrama putra PPMTQ DAARUSSALAAM menuju pabrik BAKPAO GONDANG di Karangmoncol. Perjalanan melalui ditemani view alam yang masih cukup asri, membuat waktu satu jam begitu cepat.

Sesampainya di lokasi, acara seremonial pembukaan dimulai dengan pembawa acara Ustadzah Salma Salfiah, S.Pd. Acaranya singkat untuk memberi pengantar kegiatan Outing Class tersebut. Ustadz Machmud Yulianto, S.Sos.I selaku Kepala Madrasah memberikan sambutan singkat. “Melalui kegiatan Outing Class hari ini saya sangat berharap seluruh santri akan bertambah wawasan dan terinspirasi untuk tekun berusaha”, begitu Kepala Madrasah menegaskan.

Selanjutnya, pembawa acara memberikan kesempatan kepada Mas Adi Pranoto selaku owner dari Gondang Bakpao untuk memulai presentasi mengenai sejarah adanya Gondang Bakpao. Dalam presentasinya beliau menyampaikan, “karena terdesak keadaan, saya harus berpikir menguras tenaga memeras keringat, supaya saya jangan hanya menjadi Kulo, tapi harus bisa membuat lapangan kerja sendiri”. Dengan begitu setelah banyak belajar kepada bos yang sebelumnya, akhirnya muncullah ide produksi Bakpao.

Beliau juga bercerita jika awalnya hanya mampu produksi sedikit. Itupun belum bisa tiap hari produksi, mengingat modal baru bisa kembali setelah Bakpao terjual. “Sehari produksi, sehari jualan, sehingga butuh waktu untuk modal kembali ”

Setelah banyak cerita sejarah, berikutnya Mas Adi mulai tentang bagaimana proses pembuatan Bakpao. Mulai dari pemilihan bahan hingga sampai peralatan/perlengkapan yang dibutuhkan. Berdasarkan pengalaman, maka Beliau menyampaikan mengapa akhirnya memilih bahan-bahan yang kini dipakai, “alasannya adalah kualitas”.

Pada kesempatan berikutnya, beliau mengajak santri ke ruang kerjanya untuk memulai praktek membuat bakpao. Diawali dengan membuat adonan, ternyata cukup memakan waktu dan tenaga. “Ternyata kalau bukan ahlinya, suatu pekerjaan bisa gagal atau tidak berhasil”, celoteh beberapa santri yang menyaksikan Ustadz Paryono, Ustadz Machmud, Fadhil dan Muamar membuat adonan. Padahal kalau melihat mas Herman (salah satu karyawan) yang sudah ahli, hanya butuh beberapa waktu dan tanpa keluar banyak keringat.

Setelah adonan (dianggap) jadi, maka santri selanjutnya ditugasi membuat bentuk bulatan kecil dan di isi strawberry, kacang ijo, coklat atau kelapa. Disini juga ternyata ada tantangannya. Dibutuhkan keahlian dan kecekatan supaya memperoleh hasil yang bagus. Dikarenakan santri masih baru belajar, maka hasilnya belum bagus. Permukaan yang keriput, terlalu kecil, selai yang masih nampak dari luar, bahkan gak jelas bentuk nya.

Setelah dibentuk, proses selanjutnya adalah Bakpao di biarkan supaya mengembang. Kurang lebih 30 menit, baru di kukus dalam tungku yang besar.

Sambil menunggu proses tersebut, santri melaksanakan sholat Dhuhur di masjid terdekat dan dilanjutkan refreshing di Bukit Siregol. Kebetulan hanya beberapa menit. Sehingga tidak memakan waktu sambil menunggu Bakpao yang sedang di kukus

Artikulli paraprakSANTRI MA BELAJAR DI MA’HAD Al IMAM MALIK UMP
Artikulli tjetërMufourga Menjadi Pimpinan Ranting IPM Terbaik 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini