REZEKI (Perjalanan ke MBS Wanayasa Part 2 )

0
995

REZEKI

(Perjalanan ke MBS Wanayasa Part 2 )

Oleh : Machmud Yulianto

Kepala Unit Aliyah

PPMTQ DAARUSSALAAM SLINGA

Selesai diskusi ringan kami segera berpamitan dengan Ustadz Wahyudin. Seperti rencana awal, kunci mobil langsung saya berikan ke Ustadz Budi. Saya ingin menikmati perjalanan pulang seperti rencana di awal tadi.

Keluar dari pondok, mobil mengarah ke Kalibening, ustadz Budi bermaksud mengajak melalui jalan lingkar Kalibening-Nggripit dengan niat mampir ke rumah saudara di Asinan, sebuah desa di bagian atas Kalibening.

Karena menjelang Duhur, maka sambil berjalan kami mulai mencari masjid untuk menunaikan sholat. Terlihat sebuah masjid, namun ketika di dekati jalan masuknya sempit. Masjid kedua juga sama. Demikian masjid ke tiga, kami masuk ke halaman namun waktunya belum “manjing”. Sehingga kami putuskan untuk lanjut perjalanan sambil mencari SPBU. Ternyata kami juga tidak menemukan SPBU yang menyediakan solar/biosolar. Hanya ada Dexlite yang harganya hampir tiga kali lipat.

Di SPBU yang tertulis “SPBU Terang Bulan Kalibening Banjarnegara” itu terdapat masjid yang megah dan cukup besar. Toilet dan tempat wudhunya banyak dan bersih, kami putuskan untuk sholat.

Turun dari mobil kami bertemu dengan sesama pengunjung masjid SPBU itu. Dari pakaian yang beliau kenakan, nampaknya beliau juga aktivis Muhammadiyah. “Di sini mayoritas Muhammadiyah mas”, jelas beliau, setelah membaca stiker di mobil kami.

Setelah sholat duhur selesai, Ustadz Budi berinisiatif menanyakan kepada mereka tentang SPBU yang menyediakan solar atau biosolar. “Oh yang ada tadi di Karangkobar, Kalau gak, ada di bawah, sana Petambakan. Kalau sudah mepet sebaiknya di isi 2 atau 3 liter untuk sampai ke SPBU berikutnya”..

Mengingat SPBU masih jauh, maka kami putuskan mengisi beberapa liter saja. Yang penting sampai di SPBU yang menyediakan Solar.

Setelah di isi beberapa liter Dexlite yang harganya hampir tiga kali lipat, maka kami membayar. Ketika menyodorkan uang, petugas SPBU berkata,” kata mas Halim nggak usah bayar”. Kami di dalam mobil kebingungan. Kok nggak usah bayar? Kemudian kami simpulkan sendiri, mungkin mas Halim itu pemilik SPBU yang bagus itu.

Hal itu dikuatkan setiba kami di tempat Bapak Ali Mas’adi, saudara dari Ustadz Budi menyatakan jika mas Halim adalah putra dari Milyarder di Kalibening yang memiliki SPBU tersebut. Allahu Akbar!!!

Artikulli paraprakFokus  (Perjalanan ke MBS Wanayasa part 1)
Artikulli tjetërMufourga Belajar Kelas Digital

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini