Refleksi Milad Mufourga (Dulu, sekarang dan yang akan datang)

0
1141

Milad sebagai momentum untuk evaluasi diri dan perbaikan, kemudian merencanakan kegiatan dan target yang akan datang. Banyak kekurangan tentunya, namun upaya sungguh-sungguh harus menjadi ruh perjuangan.

Alhamdulillah MTs Muhammadiyah 04 Purbalingga di Slinga (Mufourga), di Sabtu (21/1) memasuki usia 54 tahun. Usia yang sudah tidak muda lagi. Usia yang mestinya sudah matang dan siap untuk menjadi idola masyarakat.

Capaian lembaga ini, apabila digambarkan dengan grafik, maka akan terlihat garis cenderung lurus dan naik. Grafik ini berisi tentang bangunan fisik, kuantitas siswa, peningkatan sumber daya manusia pendidik dan tenaga kependidikan, siswa dan wali siswa/santri. Seluruh warga madrasah diupayakan terus mendapatkan sentuhan, agar menjadi warga yang memiliki kecerdasan, akhlakul karimah dan berkarakter.

Terkait hal tersebut, jadi ingat apa yang disampaikan oleh pengawas madrasah, saat pembinaan seluruh kepala BA, MI, MTs dan MA. Misalnya tahun ini juara, tahun depan dan seterusnya tidak juara, maka ini keberuntungan. Misalnya tahun ini ada siswa yang berprestasi, tahun selanjutnya tidak berprestasi. Ini berarti sebuah keberuntungan, bukan hasil dari agenda yang terprogram. Mufourga terus berusaha untuk membimbing siswa sesuai dengan minat bakatnya. Kemudian harus ada kompetisi atau diikutkan kompetisi. Sebagai alat ukur keberhasilan program.

Perjalanan Mufourga tentu saja sudah melalui berbagai dinamika. Alhamdulillah motto “Mufourga Madrasah Tahfidzul Quran” dapat dilaksanakan dengan baik. Bukan sebagai ekstrakurikuler, tetapi sudah masuk kurikulum. Semua siswa memiliki kesempatan yang sama, untuk berjuang menjadi penghafal Alquran. Ternyata piagam capaian hafalan yang dikeluarkan setiap tahun, ada manfaatnya di jenjang yang lebih tinggi.

Motto “Mufourga Madrasahnya Para Juara” juga sudah terbukti. Banyak piagam, piala, medali kejuaraan yang dapat diraih oleh siswa-siswi MTs Muhammadiyah 04 Purbalingga. Ada kejuaraan pencak silat, pidato, kultum, kompetisi sains madrasah, cerdas cermat, tahfidz, lomba-lomba dikegiatan pramuka, dan kejuaraan lainnya.

Motto “Mendidik Dengan Keteladanan”, terus digencarkan bagi para pendidik dan tenaga kependidikan. Bekerja di dunia pendidikan, mau atau tidak mau semua apa yang dilakukan harus dalam konteks mendidik. Apapun itu bentuknya. Mulai dari cara berpakaian, berjalan, bicara, bertingkah laku dan lain sebagainya. Pokoknya semuanya harus mendidik. Contoh siswa dilarang merokok, maka guru tidak boleh merokok di madrasah.

Motto yang lainnya, “Hebat Bersama Alquran”, warga Mufourga harus yakin seyakin yakinnya bahwa siapapun yang dekat dengan alquran pasti akan hebat. Perlu pembaca ketahui, kata hebat biasa diterapkan pada sebutan untuk hal-hal yang istimewa. Sehingga warga Mufourga diajak untuk menjadi manusia-manusia istimewa. Hal ini dilakukan dengan cara kegiatan pembiasaan setiap pagi, yaitu tadarus Alquran. Guru dan siswa bersama membaca Alquran selama 10 menit dan dilanjutkan shalat dhuha. Mengawali hari dengan mendahulukan Allah Swt, harapannya kegiatan dihari itu lancar tanpa kendala berarti. Selain itu, para guru karyawan, setiap sabtu pekan pertama bersama-sama mengkaji isi Alquran, dibimbing langsung oleh ustadz Ahmar Kholid, S.Pd (Pengasuh PPMTQ Daarussalaam Slinga Purbalingga).

“Memulai Pasti Sampai”, ini juga selalu menghiasi setiap tulisan. Harus dipupuk untuk berani memulai apapun. Memulai menjadi menakutkan, apabila terlalu banyak pertimbangan. Tanpa keberanian untuk memulai, mustahil cita-cita akan tercapai. Sudah berani memulai itu sudah juara, apalagi dapat sampai ke tujuan dengan baik dan sukses. Menanamkan keberanian memulai, melalui ekstrakurikuler muhadloroh/pidato. Ada siswa yang testimoni, menjadi berani bicara dihadapan banyak orang, setelah sekolah di MTs Muhammadiyah 04 Purbalingga.

“Berhenti Berarti Gagal” sempat menjadi tranding topik. Ada juga yang bertanya kalau tidak pernah berhenti ya capai, manusia kan perlu istirahat?. Arti berhenti disini adalah, misalnya kita sedang ikhtiar untuk mencapai sesuatu yang didambakan, kemudian berhenti, maka tidak pernah akan tercapai. Contoh lain, misalnya siswa mengalami kesulitan memahami mata pelajaran. Kemudian berhenti dari ikhtiar belajarnya, maka kegagalan ada di depan mata. Motto ini setiap hari diucapkan oleh siswa, harapannya mereka tumbuh menjadi generasi yang pantang menyerah, apapun kondisi dan keadaannya.

Tahun Pelajaran 2023/2024 MTs Muhammadiyah 04 Purbalingga akan membuka kelas peminatan, yaitu kelas digital. Didahului dengan kegiatan study tiru ke sekolah Muhammadiyah yang sudah melaksanakan kelas digital. Kemudian dilanjutkan tahap selanjutnya, memagangkan guru yang berkompeten untuk lebih mendalami, sampai dengan memerhatikan proses belajar mengajar di kelas. Perlu pembaca ketahui, bahwa MTs Muhammadiyah 04 Purbalingga sudah memiliki dua kelas peminatan, yaitu kelas reguler, kelas pesantren, dan menyusul kelas digital.(*)

 

Artikulli paraprakSudahkah kita menjalankan peran ?
Artikulli tjetërFokus  (Perjalanan ke MBS Wanayasa part 1)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini